Dalam beberapa puluh tahun terakhir ini ada tiga istilah yang masih saling berkaitan, yaitu "Lingkungan, Ekosistem, dan Kualitas Hidup", banyak digunakan untuk melukiskan isu-isu patriotisme yang dapat menggugah emosi. Istilah-istilah ini jarang didefinisikan, barangkali karena makna-makna "kamusial" seperti itu tidak cukup mencerminkan gema simboliknya secara memadai. Kita tidak akan berhenti dengan tradisi seperti ini, tetapi para pembaca buku ini akan diarahkan oleh konsteks di dalam mana istilah-istilah tersebut digunakan; misalnya saja akan dibuat referensi-referensi bagi lingkungan fisik, biologi, dan sosial-ekonomi. Pada pokoknya kita akan memu-satkan perhatikan pada lingkungan bio-geofisik, dan pengaruh-pengaruh kegiatan manusia terhadapnya.
Dalam kondisi tidak ada manusia sekalipun, lingkungan alami pasti mengalami perubahan-perubahan secara kontinyu. Hal ini mungkin saja berlangsung dalam jangka waktu ratusan juta tahun, seperti misalnya terangkatnya kontinental dan pembentukan gunung api; atau dalam jangka waktu puluhan ribu tahun seperti Jaman Es dan perubahan per-mukaan air laut yang menyertainya; atau dalam jangka waktu ratusan tahun seperti halnya eutrofikasi alami dan siltasi danau-danau dangkal; atau bahkan dalam jangka waktu beberapa tahun, seperti kalau koloni binatang "beaver" mengubah lahan kering menjadi rawa-rawa. Sebagian dari perubahan-perubahan alami tersebut bersifat tidak dapat balik (irreversible) seperti eutrofikasi danau, sedangkan lainnya bersifat siklis seperti siklus klimatik tahunan, atau transien seperti kekeringan.
Bersamaan dengan perubahan-perubahan lingkungan secara alami tersebut juga terjadi perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. Bahkan pada tingkat budaya masyarakat pemburu dan pengumpul hasil hutan, penggunaan api telah memodifikasi beberapa lingkungan alami. Kemudian dengan domestikasi hewan dan introduksi pertanian, efek-efek dari kegiatan-kegiatan ini menjadi lebih luas, terutama kalau semakin banyak manusia yang terlibat. Laju perubahan tersebut meningkat dengan berkembangnya industri karena tenaga otot digantikan dengan enerji yang berasal dari bahan bakar fosil hingga beberapa dekade terakhir ini. Dampak manusia telah mencapai intensitas yang tidak diharapkan dan mempengaruhi seluruh dunia, karena jumlah penduduk meningkat dengan pesat dan konsumsi setiap kapita yang lebih tinggi.
Intervensi manusia, misalnya dengan jalan penebangan hutan, penambangan, pembangunan bendungan besar dan diversi sungai, telah menjadi suatu gaya yang berskala geologis. Terlepas dari banyaknya batuan dan material bumi yang dipindahkan setiap tahun dalam berbagai aktivitas pertambangan, konstruksi jalan raya, dan lain-lainnya, pengaruh pada aliran air dan pengisian kembali air bumi mungkin menjadi sangat penting. Kita hanya mengetahui sedikit sekali siklus-siklus bio-geokimia alami untuk menduga konsekuensi-konsekuensi yang sesungguhnya dari gangguan-gangguan tersebut. Usulan-usulan dari beberapa "Futurist" untuk mendapatkan mineral dari bijih yang kua-litasnya sangat rendah harus diteliti dengan sangat hati-hati; dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh limbahnya bisa sangat serius
Semakin meningkatnya kontrol manusia terhadap lingkungan hidupnya seringkali menciptakan konflik-konflik antara sasaran-sasaran kemanusiaan dengan proses-proses alamiah. Dalam rangka untuk mencapai hasil yang lebih banyak atau untuk tujuan-tujuan lainnya, manusia berupaya menyimpangkan aliran enerji alamiah, mengabaikan proses-proses alami, memotong rantai makanan, menyederhanakan ekosistem, dan menggunakan banyak subsidi enerji untuk mempertahankan kenyamanan keseimbangan yang artifisial. Memang dalam beberapa kasus aktivitas-aktivitas ini dapat menciptakan atau diperlukan untuk mempertahankan kondisi sekeliling yang dianggap perlu oleh manusia, seperti misalnya aspek-aspek tertentu di daratan Eropa, yang selu-ruhnya merupakan "buatan manusia" tetapi mencerminkan budidaya yang seksama selama banyak generasi. Walaupun demikian sering terjadi konflik antara strategi-strategi yang memaksimumkan manfaat jangka pendek (misalnya hasil pangan selama lima tahun) dan yang memaksimumkan manfaat jangka panjang (misalnya hasil yang lestari 50 tahun). Hal yang pertama seringkali mengakibatkan penalti berupa degradasi lingkungan yang sifatnya tidak dapat balik. Ketidak-sesuaian antara ahli ekonomi dan ahli ekologi terutama terletak pada perbedaan perspektif waktu yang digunakannya; pada umumnya 5-10 tahun dianggap merupakan periode/jangka panjang oleh para ahli ekonomi, tetapi dianggap jangka pendek oleh para ahli ekologi. Sedikit pertimbangan dan perhitungan dilibatkan dalam perhitungan ekonomis terhadap proses-proses lingkungan seperti kerusakan tanah yang lambat atau penurunan kapasitas akuifer.
Karena lingkungan alami berfluktuasi dengan waktu, kita tidak dapat dengan mudah membedakan perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh manusia. Misalnya, suatu daerah binaan untuk pemukiman baru yang sedang dibangun pada hamparan terras yang kompleks. Hal ini jelas akan mengubah kondisi lingkungan fisik. Tetapi untuk memahami perubahan-perubahan ini maka perlu mengetahui kondisi-kondisi apa saja yang juga akan mengalami perubahan seandainya pembangunan pemukiman tersebut tidak dilakukan. Memang tidak mudah untuk mengukur secara tepat kondisi lingkungan yang ada sekarang, demikian juga untuk menduga signifikansi kecenderungan-kecenderungan perubahan yang terjadi di masa lalu serta memproyeksikannya secara akurat ke masa yang akan datang.
Lingkungan dan kualitas lingkungan telah didefinisikan, namun demikian hingga batas-batas tertentu kita perlu mendalaminya. Dalam uraian di atas ada istilah "pendugaan dampak lingkungan". Di sini kita akan mendefinisikan secara lebih tepat dalam rangka untuk melukiskan bagaimana istilah ini dan istilah-istilah lain yang terkait akan diguna¬kan
Dalam skema berikut, kegiatan manusia meliputi usulan-usulan legislatif, kebijakan, program, proyek dan prosedur-prosedur operasional. Efek Lingkungan didefinisikan sebagai suatu proses (seperti erosi tanah, dispersi polutan, penggusuran manusia) yang dapat dipacu oleh kegiatan manusia. Dampak Lingkungan merupakan perubahan neto (baik atau buruk) dalam hal kesehatan dan kesejahteraan manusia (termasuk kelestarian ekosistem dimana manusia hidup) yang dihasilkan dari efek lingkungan dan berhubungan dengan perbedaan antara kualitas lingkungan yang akan terjadi "dengan" dan "tanpa" kegiatan yang sama (Gambar 6.8). Indikator Dampak adalah suatu unsur atau parameter yang menyediakan suatu ukuran (paling tidak secara kualitatif) besarnya dampak lingkungan.
Sebagaimana yang telah dijelaskan, kita tidak akan membahas dampak pada skala kontinental dan global. Kita juga akan membatasi perhatian pada hal-hal berikut ini. Sebelum perencanaan yang komprehensif untuk pendugaan dampak lingkungan (Gambar 9) kita melalui serangkaian taha¬pan-tahapan yang semakin menyempit
Perencanaan komprehensif didefinisikan sebagai semua aktivitas yang terlibat dalam perencanaan regional dan nasional untuk masa depan.
Pendugaan Lingkungan (sinonim: analisis lingkungan) didefinisikan sebagai aktivitas perencanaan lingkungan yang berkenaan dengan pendugaan kualitas lingkungan dalam kondisi alamiah dan kondisi binaan. (Misalnya penentuan pola hujan di suatu negara, pencemaran air dalam suatu danau, dan lainnya)
Setiap mahluk hidup memiliki kebutuhan dasar yg dipenuhi oleh ketersedlaan SUMBERDAYA dalam lingkungannya.
SUMBERDAYA EKOLOGIS: segala sesuatu dalam lingkungan (ekosistem) yg dibutuhkan oleh suatu organi$me untuk bertahan hidup, tumbuh & berkembang biak secara normal. makanan, air, udara, perlindungan).
SUMBERDAYA EKONOIIIS: segala sesuatu yg diperolah dari lingkungan (ekosistem) untuk memenuhl kebutuhan & keinginan manusia.(makanan, alr, udara, perlindungan, barang-barang hasil produksi,transportasi, komunikasi & rekreasi)
Kebutuhan primer manusia yg terutama dipenuhi olch sumberdaya hayati.
Pangan : Kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamln, & mineral dalam makanan. Kalori yg dibutuhkln / orang minimal 2500 kkal per hari. Dl Indonesla kebutuhan pangan 90% (tumbuhan), 396 (hewan darat),& 7 (ikan). masalah ketersediaan pangan berhubungan erat dengan tekanan penduduk serta sangat rumit karena interaksi berbagai faktor: perkembangan ekonomi, tingkat kcmiskinan, penyebaran sumberdaya (makanan) yang tidak merata, iklim (kekeringan), & gejolak politis. Pemasalahan keterbatasan akses kepada persediaan disamping kekurangan pangan, kekurangan gizi (malnourished), kekurangan makanan (undernourished), kelebihan makanan (overnourished), & kelaparan (famine ).
Dalam beberapa puluh tahun terakhir ini ada tiga istilah yang masih saling berkaitan, yaitu "Lingkungan, Ekosistem, dan Kualitas Hidup", banyak digunakan untuk melukiskan isu-isu patriotisme yang dapat menggu¬gah emosi. Istilah-istilah ini jarang didefinisikan, barangkali karena makna-makna "kamusial" seperti itu tidak cukup mencerminkan gema simbo¬liknya secara memadai. Kita tidak akan berhenti dengan tradisi seperti ini, tetapi para pembaca buku ini akan diarahkan oleh konsteks di dalam mana istilah-istilah tersebut digunakan; misalnya saja akan dibuat refer¬ensi-referensi bagi lingkungan fisik, biologi, dan sosial-ekonomi. Pada pokoknya kita akan memu-satkan perhatikan pada lingkungan bio-geofisik, dan pengaruh-pengaruh kegiatan manusia terhadapnya
Dalam kondisi tidak ada manusia sekalipun, lingkungan alami pasti mengal¬ami perubahan-perubahan secara kontinyu. Hal ini mungkin saja berlang-sung dalam jangka waktu ratusan juta tahun, seperti misalnya terangkat¬nya kontinental dan pembentukan gunung api; atau dalam jangka waktu puluhan ribu tahun seperti Jaman Es dan perubahan per-mukaan air laut yang menyertainya; atau dalam jangka waktu ratusan tahun seperti halnya eutrofikasi alami dan siltasi danau-danau dangkal; atau bahkan dalam jangka waktu beberapa tahun, seperti kalau koloni binatang "beaver" mengubah lahan kering menjadi rawa-rawa. Sebagian dari perubahan-peruba¬han alami tersebut bersifat tidak dapat balik (irreversible) seperti eutrofikasi danau, sedangkan lainnya bersifat siklis seperti siklus klimatik tahunan, atau transien seperti kekeringan
Bersamaan dengan perubahan-perubahan lingkungan secara alami tersebut juga terjadi perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. Bahkan pada tingkat budaya masyarakat pemburu dan pengumpul hasil hutan, penggunaan api telah memodifikasi beberapa lingkungan alami. Kemudian dengan domestikasi hewan dan introduksi pertanian, efek-efek dari kegia¬tan-kegiatan ini menjadi lebih luas, terutama kalau semakin banyak manu-sia yang terlibat. Laju perubahan tersebut meningkat dengan berkem-bang¬nya industri karena tenaga otot digantikan dengan enerji yang berasal dari bahan bakar fosil hingga beberapa dekade terakhir ini. Dampak manusia telah mencapai intensitas yang tidak diharapkan dan mempengaruhi seluruh dunia, karena jumlah penduduk meningkat dengan pesat dan konsumsi setiap kapita yang lebih tinggi
Hasil-hasil dari program pembangunan wilayah yang luas (stasiun pembangkit, bendungan, jalan raya, dsb.) harus dievaluasi pada tiga skala waktu :
a). Selama Masa Konstruksi, lingkungan terganggu oleh per alatan berat pembongkar tanah, kemah-kemah dan jalan-jalan sementara untuk kerja proyek. Bagi penduduk setempat, kualitas hidup terganggu oleh adanya debu dan kebisingan serta oleh adanya konflik-konflik sosial.
(b). Setelah selesainya pembangunan proyek, rumput dan pe pohonan dita-nam kembali, dan jalan-jalan dipadatkan. Tetapi jelas bahwa lingkungan baru telah tercipta sebagai konsekwensi dari penggenangan lembah, diversi sungai, relokasi jalur lalulintas atau pelepasan secara rutin bahan polutan ke dalam udara dan air.
(c). Selama periode beberapa dekade, pembangunan proyek dapat menarik industri sekunder, dapat menyebabkan peningkatan populasi secara signifi-kan, dan dapat menim-bulkan berbagai kegiatan manusia yang tidak dapat diantisipasi sebelumnya. Setelah 50 tahun, pada saat struktur-struktur orisinil mungkin telah musnah, modifikasi lingkungan regional tampaknya jauh lebih penting daripada yang dibayangkan oleh pemrakarsa proyek.
Pada kenyataannya hasil-hasil dari beberapa usulan proyek legislaitf (misalnya rencana untuk melarang penjualan pestisida) tidak dapat dibagi- bagi menjadi babakan-babakan waktu diskrit seperti di atas. Strategi pengelolaan lingkungan yang akan melibatkan dampak jangka panjang jelas menantang proses-proses pengambilan keputusan secara tradisional. Basis-basis politis dan ekonomis dari suatu kegiatan dieva¬luasi terhadap pengaruh-pengaruh jangka pendek dan menengah dari pasar. Di sini analisis biaya-manfaat didasarkan pada suku-bunga yang berhubun¬gan dengan biaya investasi kapital saat sekarang, yang dimodifikasi untuk memperhitungkan ketidak-pastian dan resiko, sehingga skala waktu¬nya 10-15 tahun. Sistem ekonomi bertujuan untuk memaksimumkan manfaat jangka pendek; pertimbangan ekologi menunjukkan cara-cara untuk memini¬mumkan resiko jangka panjang.
Disamping skala-skala waktu yang dijelaskan di atas, ada beberapa skala ruang yang harus diperhatikan, yaitu
(a). Ruang sekitarnya, misalnya di dalam batas pagar pabrik, atau di dalam daerah yang dirancang untuk pengendalian pestisida.
(b). Wilayah; misalnya daerah muara dari bendungan besar atau cerobong yang tinggi.