PENYUSUNAN DESAIN (DED) DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

Kamis, 10 Maret 2011
A.KONSTRUKSI
I. Pemilihan Teknologi
Pemilihan teknologi yang digunakan oleh para pelaku dalam kegiatan pembangunan infrastruktur PNPM–PISEW baik yang menyangkut teknis maupun dampak lingkungan harus memperhatikan hal-hal dibawah ini:
1. Sebanyak mungkin melibatkan tenaga kerja masyarakat desa setempat, termasuk pengadaan bahan. Tenaga kerja dari luar hanya diperbolehkan apabila ketrampilan yang dibutuhkan tidak tersedia di desa.
2. Harus menggunakan bahan setempat bila ada.
3. Teknologi yang dipilih harus sederhana agar dapat dikerjakan oleh masyarakat sehingga tidak perlu mendatangkan keahlian atau peralatan dari luar desa.
4. Menggunakan teknologi yang biayanya murah tapi awet agar masyarakat dapat membangun prasarana yang lebih optimal, mengingat pada umumnya kebutuhan prasarana jauh diatas jumlah biaya yang tersedia. Harga harus ditekan dengan menggunakan tenaga dan bahan lokal, pemasok bahan yang menguntungkan masyarakat. Harus diingat bahwa prasarana tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan dibangun untuk kepentingan masyarakat sendiri. Uang yang diberikan kepada tenaga kerja jangan dianggap sebagai upah buruh tetapi sebagai perangsang atau insentif.
5. Petunjuk teknis dipersiapkan untuk membantu Tenaga Teknis Lapangan dan pelaku desa (LKD dan FD). Apabila prasarana dianggap kurang sesuai dengan kriteria atau diluar kemampuan Tenaga Teknis Lapangan dan pelaku desa untuk dilaksanakan serta dalam pemeliharaannya, perlu adanya pendampingan khusus dan arahan dari tenaga ahli dibawah pengawasan konsultan. Tenaga Teknis Lapangan dan pelaku desa tidak harus terpaku pada standar buku petunjuk teknis dan boleh menggunakan standar teknis lainnya yang relevan.
6. Apabila sangat dibutuhkan untuk menggunakan alat berat, maka perlu adanya pendampingan khusus dari konsultan.

II. Survei Teknis dan Pembuatan Gambar Rencana
Pada pasal survei teknis dan pembuatan gambar rencana ini akan dijelaskan proses keseluruhan dalam pelaksanaan survei teknis dan pembuatan gambar rencana, dimana sebagai contoh dipakai Jalan Desa. Lihat Diagram 1 berikut ini.
a. Survei Pendahuluan
Survei pendahuluan merupakan langkah awal dari suatu pembangunan. Hasil survei pendahuluan memberikan gambaran yang lebih menguntungkan untuk pembangunannya.
Hasil yang diharapkan dari Survey pendahuluan adalah kegiatan secara umum untuk mencari/memperoleh data sekunder, menentukan lokasi desa, jenis prasarana , dan keterpaduan antara kebutuhan infrastruktur yang akan dibangun terhadap fungsi, akses , dan dapat membuka keterisolasian desa. Melihat keadaan dan situasi lokasi untuk memilih alternatif jenis dan bentuk konstruksi yang sesuai serta yang dibutuhkan masyarakat. Kegiatan survei ini merupakan kegiatan kunci dalam perencanaan jalan. Kegiatan survei
pendahuluan dilakukan untuk menjamin pemilihan calon proyek antara lain;
  1. Memenuhi kriteria yang telah ditentukan.
  2. Memberikan manfaat yang diharapkan.
  3. Dapat dibangun dengan harga yang wajar.
  4. Tidak mempunyai masalah teknis yang sangat berat.
  5. Tidak merusak lingkungan
  6. Memilih tata letak bangunan
  7. Cocok dengan medan dan kondisi lokasi setempat
  8. Mudah dalam pengadaan bahan,alat dan tenaga kerja
  9. Sesuai dengan kebutuhan pelayanan
Pengamatan di lapangan lebih teliti dari sekedar melihat saja. Perencanaan harus betulbetul mampu membayangkan rencana jalan dan bangunan pelengkapnya. Untuk ruas jalan, harus dilihat kemungkinan terkena masalah drainase, tanah, kemiringan, pemilikan lahan, dan aspek teknis lainnya, disamping hal tersebut perlu juga meninjau persediaan bahan dan tenaga setempat. Harus diperkirakan jumlah dan ukuran gorong-gorong dan jembatan yang dibutuhkan, dan alternatif-alternatif yang kemungkinan lebih layak, mudah
atau murah.
b. Survei Teknis/Investigasi untuk Perencanaan Teknik Konstruksi Dari hasil Survei Pendahuluan (Reconnaisance Survey) dilakukan survai teknis untuk perencanaan.
Hasil yang diharapkan dari survei teknis/Investigasi adalah merupakan kegiatan kunci secara teknis untuk mencari/memperoleh data primer, investigasi dilakukan untuk menjamin pemilihan dan penentuan jenis konstruksi secara teknis maupun data data teknis lainnya, topografi, data debit banjir atau pasang, kondisi tanah dimana prasarana akan dibangun, sumber mateial lokal, dan sebagainya, hal ini agar dapat dipakai sebagai dasar analisa untuk memenuhi kriteria dan standar perencanaan yang disyaratkan, agar dapat memberikan manfaat yang diharapkan, dapat dibangun dengan harga seimbang/sesuai, tidak mempunyai masalah teknis yang berat, dan tidak merusak lingkungan.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut;
Contoh :
1. Pemasangan Patok Stasiun (STA) meliputi; Patok STA dibuat dari kayu kasau (5 x 7) cm panjang 1meter.
Patok STA ditanam sedalam 50 cm di dalam tanah dan 50 cm berada di atas tanah. Identitas patok STA dengan di beri nomor (STA No: ……………), dan patok STA tersebut harus jelas tertera di dalam gambar peta ukur dengan disebutkan nomor STAnya.
2. Pengukuran Teknis
Cara Pengukuran Jalan Desa dapat dilakukan secara sederhana yaitu dilakukan dengan cara Survei Antar Patok (SAP) dengan menggunakan peralatan seperti Clinometer, kompas dan selang ukur, hasil pengukuran ini dapat dimasukkan kedalam format survei SAP, VAP, MAP dan Calculation sheet (lihat Lampiran 1) yang terdiri dari:
  1. Survei antar patok untuk informasi dasar.
  2. Volume antar patok untuk meghitung volume kegiatan.
  3. Hari Orang Kerja (Man days) antar patok untuk menghitung tenaga kerja.
Dalam melakukan survei lapangan untuk jalan desa dapat dilakukan dengan dua cara yaitu tanpa menggunakan alat ukur optis dan apabila sangat dibutuhkan dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur optis 
Hasil yang diharapkan dari Survey pendahuluan adalah kegiatan secara umum untuk mencari/memperoleh data sekunder, menentukan lokasi desa, jenis prasarana , dan keterpaduan antara kebutuhan infrastruktur yang akan dibangun terhadap fungsi, akses , dan dapat membuka keterisolasian desa. Melihat keadaan dan situasi lokasi untuk memilih alternatif jenis dan bentuk konstruksi yang sesuai serta yang dibutuhkan masyarakat. investigasi yang dianjurkan adalah survey antar patok, karena sistem tersebut dapat dilakukan dengan alat yang sederhana dan mudah didapat. Perhitungan yang digunakan juga mudah.
Prinsip dasar dari survey dan investigasi antar patok adalah misalnya; jalan dibagi menjadi segmen kecil-kecil, antara 25 meter sampai 50 meter, perhitungan volume, dan perhitungan tenaga dicari tiap segmen yang kemudian dijumlahkan untuk ruas keseluruhan.
Contoh :
Cara mengisi formulir Survei Antar Patok (SAP) :
  1. Kabupaten, kecamatan, dan desa; diisi sesuai lokasi proyek
  2. Bahan, lebar, dan tebal perkerasan; diisi sesuai bahan yang akan digunakan, lebar jalan termasuk saluran tepi, dan tebal yang disyaratkan.
  3. Lebar badan jalan; termasuk bahu kiri dan kanan, tidak termasuk saluran pinggir
  4. Panjang jalan; diisi panjang keseluruhan termasuk cabang-cabang yang akan dikerjakan.
  5. Dimensi saluran; ukuran lebar dan kedalaman saluran.
  6. Jenis gorong-gorong; diisi jenis yang akan digunakan pada umumnya. Bila ada jenis lain di tempat tertentu, harus disebutkan pada kotaknya.
  7. Nomor patok; penomoran patok dimulai dari Patok 0 dan setiap patok 50 m diberi nomor. Patok harus semipermanen agar bertahan sampai akhir proyek.
  8. Jarak antar patok; biasanya 50 m, tetapi boleh kurang bila dirasa perlu, seperti di lokasi yang ada perubahan arah/ tanjakan/situasinya cukup besar. Jarak komulatif; jarak dari awal proyek. Bila ada cabang dapat dimulai dari nol lagi.
  9. Arah trase; perkiraan arah dari patok pertama melihat ke patok kedua. Ditulis dengan satuan derajat dari utara 0o, timur 90o, dst. Diukur dengan kompas tangan.
  10. Tanjakan; persentase tanjakan pada bagian tercuram antara dua patok. Tanda ‘+’ digunakan bila jalan naik dari patok pertama, dan tanda ’-‘ bila jalan menurun.
  11. Panjang tanjakan; panjangnya tanjakan yang dicatat diatas. Bila tanjakan lebih panjang dari satu kotak, kotak tersebut diberi tanda “→”.
  12. Keadaan sekitar jalan; dicatat keadaan seperti hutan, sawah, lewat sungai, rawa, dll.
  13. Keadaan jalan lama; lebar jalan yang sudah ada, apakah pernah diperkeras.
  14. Jumlah pohon; jumlah pohon besar yang perlu ditebang untuk pembangunan.
  15. Penebasan; rata-rata lebar dan panjang penebasan yang diperlukan, tidak termasuk bagian yang tidak perlu ditebas seperti jalan lama.
  16. Pembersihan; rata-rata lebar dan panjang pembersihan / pengupasan yang diperlukan, termasuk saluran dan dasar timbunan.
  17. Jenis galian; galian biasa, tanah keras, batu, lumpur, dsb. Bila terdapat dua atau lebih jenis gaian yang bervolume besar, perlu dicatat data masing-masing.
  18. Volume galian; estimasi/perhitungan volume galian antar dua patok dengan cara rata-rata luas penampang dikalikan panjangnya.
  19. Volume timbunan; perhitungan volume timbunan antar dua patok.
  20. Jarak dari sumber timbunan; bila tanah timbunan harus diangkut dengan jarak lebih dari 50 m ke patok-patok. Kurang dari 50 m tidak perlu diisi.
  21. Saluran; diisi jumlah saluran pinggir jalan yang diperlukan. Diisi dengan KR (kiri saja), KN (kanan saja), 2 (ki-ka), atau 0 (tidak perlu)
  22. Bangunan yang ada; catatan mengenai gorong-gorong, jembatan, dan tembok yang sudah ada dan tidak perlu diganti. Dicatat jenis dan dimensi pokoknya.
  23. Letak dan jenis bangunan baru; perkiraan jumlah jembatan, gorong-gorong, atau tembok yang diperlukan, dengan jarak dari patok pertama (misal “+25 m”)
  24. Ukuran bangunan baru; ukuran pokok bangunan yang diperlukan diatas.
  25. Jarak dari sumber_________; tempat disediakan untuk tiga bahan yang diperlukan. Dicatat bila jarak > 50 m dan diangkut oleh manusia. Bila diangkut dengan kendaraan maka jarak tidak perlu dicatat.
  26. Kebutuhan gebalan rumput; dicatat jumlah ruas yang perlu dilindungi gebalan rumput.
  27. Jarak dari sumber gebalan; dicatat bila > 50 m saja.
  28. Sket kondisi tanah asli untuk perencanaan jalan; untuk mencatat keadaan tanah asli dan perkiraan kebutuhan galian dan atau timbunan. Pada tiap patok disket potongan memanjang dan melintang jalan pada titik tersebut, kemudian ditandai PB 11.Penyusunan DED dan RAB bagian galian dan atau timbunan dengan perkiraan dimensi dan luas penampangnya.

Dari hasil SAP dan pengukuran polygon dapat dibuat gambar ukur, dimana dalam gambar ukur tersebut akan dicantumkan patok STA dengan diberi Nomor Urut STA yang akan mengidentifikasi Lokasi Pembangunannya. Gambar Rencana ini akan merupakan acuan untuk Pembangunan Jalan Desa.
Adapun Gambar Rencana ini akan dilakukan seperti dijelaskan dibawah:
1. Peta desa yang menunjukkan letak prasarana, yang dilengkapi dengan arah mata angin dan tata guna lahan/peta hamparan sehingga dapat menunjukkan parasana.
2. Peta situasi yang dapat menujukkan layout prasarana. Peta ini dilengkapi dengan arah mata angin dan ukuran pokok prasarana jarak antar patok ukur dan tata guna lahan sekitar prasarana sehingga dapat menunjukkan posisi prasarana terhadap lingkungan mikro
3. Pembuatan Gambar Teknis ini, akan menyajikan:
a. Lokasi Awal Proyek dan Akhir Proyek
b. Lokasi dan Rencana Bangunan Pelengkap
c. Tampak atas / denah
d. Potongan Mamanjang
e. Potongan Melintang
4. Gambar detail jalan desa dan bangunan pelengkap yang akan dibangun Pembuatan Gambar Detail, menjelaskan detail dari :
- Lebar jalan
- Lebar bahu jalan desa
- Tingginya timbunan atau galian jalan desa yang diperlukan
- Saluran tepi dengan ukurannya
- Bangunan Pelengkap, seperti Gorong-gorong, Tembok Penahan Tanah (TPT) dan lain-lain yang diperlukan.
Didalam Gambar Detail harus mencantumkan ukuran secara benar (skala 1: 10; 1:20) yang akan merupakan acuan untuk pelaksanaan di lapangan dan perhitungan volume pekerjaan. Bila dalam pelaksanaan nanti diperlukan penelitian untuk kualitas material, maka syarat kualitas material tersebut harus dicantumkan.


IV. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Sebelum melakukan penyusunan RAB kiranya perlu mengetahui perbedaan penyusunan RAB proyek yang dilaksanakan oleh PU Kabupaten dengan PNPMPISEW (lihat Lampiran 4).
1. Perhitungan Volume Pekerjaan
Volume Pekerjaan akan dihitung dari Gambar Rencana Detail yang sudah mencantumkan semua ukuran untuk dilaksanakan dengan kualitas dari material dan spesifikasi (misal perbandingan campuran beton) yang harus dipenuhi. Menghitung kebutuhan bahan, alat dan tenaga setiap jenis satuan pekerjaan, kemudian digunakan sebagai dasar untuk menghitung kebutuhan bahan, tenaga dan alat untuk seluruh jenis pekerjaan. Perhitungan bahan, alat dan tenaga dapat menggunakan: Panduan teknis PNPM – Pisew Analisa BOW, Analisa K, Analisa SNI Perhitungan Volume Pekerjaan tersebut akan merupakan acuan untuk dapat dipergunakan sebagai dasar dari pelaksanaan pekerjaan oleh LKD
a) Di dalam Perhitungan Rencana Anggaran Biaya, akan dicantumkan:
 Perhitungan Volume Pekerjaan (misal Galian Tanah, Pasangan Batu)
 Perhitungan Kebutuhan Bahan
 Perhitungan kebutuhan Peralatan
 Perhitungan kebutuhan Tenaga Kerja
 Perhitungan Waktu Pelaksanaan
b) Survei Harga
Sebelum mengitung RAB supaya dilakukan survei harga bahan terutama untuk bahan lokal yang ada di wilayah kecamatan maupun desa, peralatan (baik di beli maupun di sewa) dan tenaga kerja. Hasil survei harga tersebut merupakan salah satu dasar untuk mengitung RAB. Prinsip dari pemilihan bahan tenaga kerja dan alat adalah harganya murah namun kwalitas memenuhi syarat. Format survei harga,
2. Perhitungan Biaya
Untuk Menghitung RAB dibutuhkan :
1. Hasil Perhitungan bahan, Alat dan Tenaga untuk setiap jenis pekerjaan
2. Harga bahan, upah dan Alat (beli atau Sewa) yang didapat dari survei maupun SK bupati
3. Biaya umum maksimum 10 % dari biaya konstruksi dan dialokasikan sesuai dengan kebutuhan, antara lain terdiri dari :
a. Dokumen SP3
b. Direksi keet dan gudang
c. Papan Nama Proyek
d. Papan Informasi
e. Pengukuran staking out (pemasangan patok)
f. Shop Drawing (Gambar yang akan dikerjakan)
g. Administrasi dan Alat Tulis Kantor (Laporan)
h. Laporan Akhir
  1. Back up Data
  2. As Built Drawing
  3. Foto Dokumentasi (0%, 50%, 100%)
i. Biaya Transportasi
j. Biaya rapat - rapat di desa
k. Keperluan lain yang belum tertera diatas (sebutkan) mis: membuat prasasti PNPM PISEW, dsb. Dalam penyusunan Rencana anggaran biaya, dan penjelasan penyusunan desain dan RAB serta contoh format, Lihat Lampiran 6 DALAM Pantek DED/RAB.

0 komentar: On PENYUSUNAN DESAIN (DED) DAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

Poskan Komentar

Entri Populer

Grab this Widget ~ Blogger Accessories
 
bottom